;
 
 
  home » artikel info » PROFIL SUKSES: Farchan Memopulerkan Lele di Kalimantan

PROFIL SUKSES: Farchan Memopulerkan Lele di Kalimantan

Posting: Sabtu, 22 Juni 2013 - Hit 10821 - Kontributor:

Dulu, lele sama sekali tak dilirik di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Konsumen menganggap ikan itu hidup di lingkungan yang kotor. Namun, Farchan Slamet (38) bersama para petani ikan mengubah stigma itu. Sekarang, ia malah kewalahan melayani permintaan lele.

Dikisahkan Farchan, lele ditolak karena konsumen jijik. Lele dikira dipelihara di tempat yang tak higienis. Sebagian masyarakat daerah tertentu malah menganggap lele bukan ikan.

Farchan memelihara lele sejak tahun 2002. Namun, pandangan negatif itu membuat Farchan susah menjual lele. Ia menawarkan lele kepada penjual ikan, tapi ditolak. Farchan mengalihkan target kepada pengelola warung tenda, tapi mereka pun enggan menerima lele. ”Katanya, daging lele kenyal seperti karet. Jorok lagi. Akhirnya, saya kasih dulu lele untuk 10 warung tenda. Bayar belakangan,” ucap Farchan.

Tiap-tiap warung tenda diberi 2 kilogram (kg) lele. Itu pun hanya lima pengelola warung tenda yang setuju. ”Kalau laku, baru dilunasi. Tidak laku, tak usah bayar. Lele seperti tak ada harganya. Dibuang-buang,” ungkap Farhan. Ayah dari M Zuhal Alifardani (11) dan M Fathoni Putrafardani (8) itu kembali dua hari kemudian. Ternyata pengelola warung tenda justru menyodorkan permintaan lele tambahan.

Ia lakukan apa pun agar lele dikonsumsi lebih luas. Karena itu, ia juga merangkul petani ikan untuk membudidayakan lele. Demi menggairahkan minat petani, Farchan mempertaruhkan kelangsungan usahanya. Ia memberi jaminan, lele pasti dibeli. ”Tapi, kalau lele tak dijual, saya bangkrut. Maka, pasar harus terus dicari,” kenangnya.

Ia juga menghadapi masyarakat yang antipati terhadap lele dengan membuat abon dan kerupuk. Setelah memakannya, mereka diharapkan bisa mengonsumsi lele. Pesanan teratur akhirnya diperoleh Farchan tahun 2005 sekitar 5 kuintal per bulan dengan langganan pengelola warung tenda. Seiring dengan itu, petani ikan mitra Farchan terus bertambah hingga 300 orang saat ini.

Kapasitas produksi lele dari Farchan dan rekan-rekannya sekitar 750 kg per minggu. Respons amat positif pada lele diindikasikan dari besarnya permintaan pelanggan. Lele yang dipasok Farchan baru bisa memenuhi 25 persen dari total permintaan.

Total lele yang diminta mencapai 3 ton per minggu. Farchan menyalurkan lele kepada 35 pelanggan, mulai dari warung tenda, restoran, hotel, hingga pabrik pengalengan ikan. Di Kalteng, Farchan memasok lele ke Palangkaraya serta Kabupaten Lamandau, Kotawaringin Timur, Murung Raya, Barito Selatan, dan Gunung Mas.

Pasar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, hingga Balikpapan, Kalimantan Timur, pun dirambah. Sayangnya, ujar Farchan, jalan dari Kalteng ke Kalimantan Barat belum bisa ditembus. Ia yakin pasar Kalbar bisa dijangkau. ”Rasio permintaan dan stok sekarang semakin jauh. Setahun lalu, konsumen minta 100 kg per bulan, misalnya, hanya diberi 50 kg. Kini, bisa tidak dapat sama sekali,” kata Farchan.

Prospek bagus

Prospek yang amat baik tentu membuat petani lele kian semangat. Harga lele di petani sekitar Rp 11.000 per kg dan di pasar Rp 20.000-Rp 25.000 per kg. ”Tinggi dibanding harga rata-rata di Jawa Rp 8.000-Rp 10.000 di petani dan Rp 13.000 per kg di pasar,” kata Farchan.

Bahkan, kini ada pembeli di Palangkaraya yang menghargai lele di tingkat petani sebesar Rp 20.000 per kg. Kini banyak masyarakat di Palangkaraya yang memelihara lele. Farchan pun tak segan memberikan bibit sebagai stimulus. ”Kadang, saya beri 100 ekor untuk setiap petani. Saya memberikan masukan untuk mengembangkan usaha agar berhasil,” ujarnya.

Risiko selalu ada. Beberapa kali pembayaran tak dilunasi. Padahal, lele sudah disebar di kolam pembeli bibit. ”Paling besar rugi tahun 2007. Dibawa kembali tak mungkin karena bibit bisa mati. Tapi, setelah dilepas, kewajiban Rp 7,5 juta tak dibayar,” lanjutnya.

Fluktuasi harga lele kerap merugikan petani. Farchan berupaya mencegah risiko itu dengan menetapkan harga Rp 11.500 per kg di petani dan menjualnya Rp 14.000 per kg ke restoran. Lantaran ingin menjaga harga, tak jarang Farchan merugi.

Ia mulai mencoba menghasilkan bibit lele tahun 2008. Farchan pun mengajak petani bisa melakukan langkah yang sama. ”Selain itu, sudah dua tahun belakangan saya juga menambah komoditas, yakni gurami, dan permintaannya pun banyak,” kata Farchan.

Harapan suami Isnaeni (38) yang belum tercapai adalah menjadikan Palangkaraya sebagai pengekspor ikan. Masih banyak lahan telantar yang bisa dimanfaatkan. Produksi yang besar akan mendorong berdirinya industri.

Pria kelahiran Kediri, Jawa Timur, 16 Maret 1973, itu berangan-angan, produk yang dipasarkan tak hanya abon dan kerupuk, tetapi juga kalengan hingga ikan asap. ”Ekspor ikan asap. Bukan ekspor asap dari kebakaran hutan,” ucap Farchan sambil tertawa. (Kompas).

Artikel & Berita Lainnya (Random)
  • Daftar Pembeli (Rutin & Kontinyu) (003)

    Posting: Minggu, 7 Agustus 2016 - Hit 21316 - Kontributor: Agrosukses Business Club (ABC)

    Pembeli SapiID Anggota: 0002583 Website Profil: www.agrosukses.com/id.2583 Pembeli Bebek, Singkong, Daun SingkongID Anggota: 0002582 Website Profil: www.agrosukses.com/id.2582 Pembeli Jahe, Pepaya, Bengkoang, UmbiID Anggota: 0002578 Website Profil: www.agrosukses.com/id.2578 Pembeli KelapaID Anggota: 0002576 Website Profil: www.agrosukses.com/id.2576 Pembeli Kencur. Jahe dllID Anggota: ...

  • Budidaya Belut: Peluang Pasar yang Menggiurkan

    Posting: Selasa, 22 Oktober 2024 - Hit 61336 - Kontributor: AMA

    Menariknya, budidaya belut telah menjadi salah satu bentuk usaha yang menarik perhatian banyak orang di Indonesia. Bukan hanya sebagai makanan lezat dan bergizi tinggi, namun juga menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Dalam tulisan ini, kita akan membahas secara mendalam tentang bisnis budidaya belut, potensi pasar yang terbuka lebar, serta tantangan-tantangan yang perlu dihadapi dalam ...

  • Daftar Permintaan (Rutin & Kontinyu) 005

    Posting: Sabtu, 13 April 2019 - Hit 15547 - Kontributor: Agromania

    Daftar Permintaan (Rutin & Kontinyu) 005 Cari Kerang dan Vanili Kami adalah pembeli tetap dan kontinyu untuk komoditi kerang dan vanili. Kerang yang kami cari adalah kerang dengan diameter 8-12 cm sebanyak 100 kuintal. Vanili yang kami cari adalah vanili dengan biji hitam juga sebanyak 100 kuintal. Kami menunggu penawaran Anda. Dibutuhkan Sludge Palm Oil dan Kunir Putih Kami menunggu ...

  • Kayumanis yang Diminati Pembeli

    Posting: Selasa, 27 Januari 2015 - Hit 19576 - Kontributor: Agromania

    Di antara kelompok pembeli kayumanis, Amerika Serikat paling cerewet menerapkan aturan soal standar mutu. Negeri Paman Sam mensaratkan beberapa kriteria seperti: bersih dari kotoran dan jamur, kulit kuning kecokelatan, berkadar air maksimal 14%, dan memiliki kandungan minyak 1,5-2,75%.Keinginan mereka wajar. Sebab kayumanis itu akan dipakai untuk bahan campuran makanan, minuman dan bahan baku ...

  • KONTAK BISNIS (004)

    Posting: Jumat, 23 September 2022 - Hit 90567 - Kontributor: Agrosukses Business Club (ABC)

    To Agrosukses. Dijual lahan sawit 15750ha di Barito Timur, KalTeng. yang sudah dibuka 4822ha. yang sudah ditanami 4554ha. Ada ijin usaha, ijin lokasi, ada pelabuhan cpo/pko, ada peta area, peta koordinat. Harga 130M. Tks. ricky Pak brapa biji coklat perkgnya dan dimana domisili bpk. Saya H. Suharlan dari bengkulu Perkenalkan nama saya buyung, saya tertarik dengan agrosukses bagaimana caranya kl ...

  • Budidaya Bambu Hitam

    Posting: Selasa, 23 Juli 2013 - Hit 18030 - Kontributor:

    Ada dua genus bambu hitam. Pertama genus Phyllostachys yang merupakan bambu hitam sub tropis, dan sudah dibudidayakan di RRC, Jepang, dan Korea. Kedua genus Gigantochloa, yang merupakan bambu hitam tropis, yang banyak tumbuh di kawasan Indonesia, namun belum dibudidayakan secara khusus.Bambu hitam sub tropis adalah Phyllostachys nigra, masih satu genus dengan bambu kuning (pring gading, ...

  • Standar Mutu Biji Kakao

    Posting: Senin, 16 November 2020 - Hit 47759 - Kontributor: Emma (PT Agromania)

    Standar Mutu Biji KakaoNo SNI: 01-2323-2002 Biji kakao mulia adalah biji kakao yang berasal dari tanaman kakao jenis Criolo dan Trinitario serta hasil persilangannya. Biji kakao lindak adalah biji kakao yang berasal dari tanaman kakao jenis forastero Syarat Umum:Serangga hidup: tidak adaKadar air : Maks 7.5 %Tidak ada biji berbau asap dan atau abnormal dan atau berbau asingKadar biji pecah : ...

  • Standar Mutu Kemiri

    Posting: Sabtu, 19 September 2020 - Hit 41945 - Kontributor: PT Agromania

    Standar Mutu KemiriNo SNI: 01-1684-1998 Kemiri adalah daging biji kemiri (Alleurites mellucana willd) yang telah dipisahkan dari tempurungnya. Kemiri cacat/rusak adalah kemiri yang berjamur, rusak karena serangga, muda (keriput) dan hangus (bernoda hitam) dan rusak. Kemiri pecah adalah kemiri yang tidak utuh dengan ukuran lebih kecil dari 3/4 bagian utuh. Syarat Mutu:Minyak: Min 60 ...

  • Mutu Rambutan yang Laku untuk Ekspor

    Posting: Selasa, 27 Januari 2015 - Hit 17492 - Kontributor: Agromania

    Mutu rambutan Indonesia tak kalah dengan Muangthai, Namun, tidak semua jenis rambutan bisa diekspor, Ada syarat-syarat tertentu yang diminta pihak importir.Rambutan merupakan buah khas negeri tropis. Tak heran bila ia mendapat julukan tropical fruit. Taufik, orang nomor satu di PT Multi Sarana, sebuah perusahaan pengekspor buah, malah menyebutkan bahwa seorang rekan bisnisnya di Eropa menjuluki ...

  • Standar Mutu Arang Tempurung Kelapa

    Posting: Sabtu, 14 November 2020 - Hit 50130 - Kontributor: Emma (PT Agromania)

    Standar Mutu Arang Tempurung KelapaNo SNI 01-1682-1996 Arang tempurung kelapa adalah hasil pengarangan/karbonisasi biji tanaman kelapa. Syarat Mutu:Bagian yang hilang pada pemanasan 950o C maks 15 %Air : maks 6%Abu : maks 3%Warna hitam merataTidak boleh ada benda asing. Cara Pengemasan:Arang tempurung kelapa dikemas dalam wadah yang tertutup rapat, cukup aman dalam transportasi dan ...